Membayangkan Hal Yang Mustahil
- 2 jam yang lalu
- 6 menit membaca
Revolusi 1968
Teresa Coppola
Siapakah sebenarnya pemuda tahun 1968? Apa saja kesamaan antara momen bersejarah itu dengan zaman yang kita jalani hari ini? Bagaimana kita bisa membayangkan kembali dunia yang berbeda, bahkan ketika segalanya terasa mustahil?
Jika kita melihat pemuda sepanjang sejarah, mereka adalah bagian dari masyarakat yang selalu menjadi penggerak perubahan jangka panjang. Di dalam gelombang perjuangan yang masih mengalir hingga sekarang, kita ingin mengungkap mekanisme sejarah yang krusial. Mekanisme yang pernah mengubah arah jalannya zaman. Tujuan kita adalah menemukan dan membentuk “kunci-kunci” yang mampu membuka roda gigi zaman kita sendiri, agar kita bisa keluar dari kekacauan yang ada. Tahun 1968 terjadi pada titik pertemuan penting dalam sejarah dunia. Setelah keluar dari dua perang dunia dan kolonialisme yang tak terkendali dengan kondisi hancur lebur, negara-negara di dunia memutuskan untuk memulai era perdamaian. Namun perdamaian itu tidak menyentuh belahan dunia selatan. Janji kebebasan yang dibawa neoliberalisme bagaikan candu yang menyelimuti satu sisi dunia, sementara sisi lainnya diubah menjadi neraka yang hidup. Kongo, Vietnam, dan Afrika Selatan menjadi semacam ghetto bagi masyarakat yang makmur di belahan utara.

Pemberontakan dari Pinggiran
Dengan semakin terhubungnya “Dunia Pertama” dan “Dunia Ketiga”, lahirlah model solidaritas internasional baru yang bergerak di dua front strategi yang berbeda. Di satu sisi, berkembang perang gerilya anti-kolonial di era di mana teknologi perang berkembang sangat pesat. Di sisi lain, terjadi pelemahan internal kapitalisme di pusatnya sendiri melalui pembangunan kesadaran dan penciptaan cara hidup yang berbeda.
Dalam konteks ini, para pelopor revolusioner merasa perlu mendorong seluruh masyarakat untuk membayangkan dunia yang berbeda dari yang ditawarkan oleh modernitas kapitalis. Prioritas utama adalah membangun tekad untuk membebaskan diri dari perbudakan yang kita timpakan pada diri sendiri, serta menyadari bahwa kita hiudp di bawah pengaruh ramuan palsu kebebasan yang diberikan liberalisme. Vietnam adalah contoh paling penting dari dua front perjuangan ini. Di satu sisi, ada perlawanan pemuda Amerika yang menolak wajib militer massal. Di sisi lain, ada gerakan gerilya rakyat yang mempertahankan diri dari kekuatan militer terbesar di dunia. Perjuangan Palestina untuk pembebasan nasional menjadi mercusuar harapan, dan mencapai titik balik pada tahun 1967 dengan berdirinya PFLP serta dimulainya operasi bersenjata,
Kosakata dekolonisasi pun merembes ke dalam negara-negara Barat sendiri. Michel Rocard, pemimpin Parti Socialiste Unifié di Prancis, pada tahun 1966 berbicara tentang “dekolonisasi provinsi-provinsi”, mengecam ketimpangan antara Paris dan wilayah-wilayah lain di negara itu. Di Amerika Serikat, perjuangan gerakan Afrika-Amerika menjadi sangat krusial, terutama Black Panther Party yang sejak didirikan pada 1966 dengan cepat mengambil karakter transnasional. Kaum Dalit yang tertindas di India meniru retorika Black Panthers. Perwakilan Front Pembebasan Nasional Vietnam juga menggunakan organisasi ini sebagai teladan, dan menyebut diri mereka “Yello Panthers”.
Gerakan Pemuda
Aktivisme yang lahir di Palestina, Al-Jazair, Vietnam dan Amerika Latin tiba-tiba menyebar ke seluruh dunia. Pemuda yang dibutuhkan sistem karena kekuatan fisik mereka di medan perang dan kontribusi intelektual mereka di dunia pengetahuan memberontak dan menjadi subjek revolusioner pada zamannya. Tahun 1968 menjadi puncak dari gelombang protes yang belum pernah terjadi sebelumnya. Secara ideologis, gelombang ini dimulai dari kampus-kampus di California, kemudian menyebar ke Italia, Jerman dan Meksiko, sebelum menemukan ekspresi paling kuat dan paling simbolik di Prancis pada bulan Mei dan Juni 1968.
Seruan Che Guevara, “Jadilah realistis, tuntutlah yang mustahil”, bergema di mana-mana. Seolah-olah ribuan jembatan sedang dibangun di seluruh dunia. Persaudaraan antar masyarakat yang melawan modernitas menyatukan semua perjuangan ini dengan cara yang sangat dalam dan visceral.
Tahun 1968 menjadi mungkin berkat perjuangan dekolonisasi, berkat masuknya anak-anak keluarga buruh ke universitas, dan berkat aliansi antara mahasiswa dan buruh. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kaum muda secara terbuka menyatakan identitas mereka sendiri di dalam sebuah revolusi, dengan kesadaran kolektif bahwa mereka adalah barisan depan (vanguard) dari perubahan itu.
Perubahan Paradigma
Terjadi sebuah peralihan dari pendekatan yang berpusat pada kelas menjadi pendekatan yang berpusat pada otonomi politik dan karakter moral masyarakat. Sensibilitas baru tahun 1968 terkait erat dengan visi sosialisme yang lebih utopia di segala aspek kehidupan. Ini berarti mengambil sikap tegas melawan kekuasaan dan melawan segala bentuk otoritas yang menindas imajinasi serta kebebasan.
Dari Revolusi China muncul gagasan revolusi kebudayaan. Dalam pengertian ini, tahun 1968 menjadi titik balik kognitif sebuah perubahan paradigma bagi seluruh generasi.
Karena itulah, gelombang perubahan dimulai di universitas-universitas, yang saat itu baru saja membuka pintunya lebar-lebar bagi anak-anak muda dari kelas sosial yang kurang beruntung. Sepanjang tahun 1968, kita menyaksikan lahirnya berbagai komite dan sidang umum di dalam fakultas-fakultas yang terbuka bagi siapa saja yang mau berpartisipasi.
Pada tahun berikutnya, pada 1969 para mahasiswa di seluruh Eropa meninggalkan kampus untuk bertemu dan bergabung dengan gerakan buruh. Langkah ini membuka jalan bagi lahirnya partai-partai politik dan organisasi-organisasi perjuangan di tahun 1970-an.
Selama pendudukan gedung dan mobilisasi massa, para mahasiswa mengalami bentuk-bentuk kehidupan komunal di antara sesama yang setara. Di sinilah benih gagasan bahwa “yang personal adalah politik” mulai tumbuh. Hal itu muncul melalui upaya mempolitisasi wilayah-wilayah kehidupan baru serta kontradiksi-kontradiksi baru yang timbul dari ikatan-ikatan mendalam yang terjalin selama pendudukan, pemogokan, dan demonstrasi.
Melawan korupsi moral kapitalisme, tujuannya adalah membangun cara hidup baru yang selaras dengan cita-cita mereka, merupakan sebuah cara hidup yang sudah bisa dipraktikkan di sepanjang perjalanan perjuangan itu sendiri.
Gerakan Feminis
Ketika masyarakat sedang bergerak, elemen-elemen yang menghambat roda perubahan menjadi lebih mudah terlihat. Perempuan-perempuan yang terlibat dalam gerakan sosial tahun 1968 menyadari bahwa hambatan terbesar bagi pembebasan mereka justru adalah penindasan berbasis gender yang mereka alami itu sendiri. Itulah mentalitas patriakal yang merasuki setiap lapisan masyarakat. Mereka memahami bahwa pertentangan antara laki-laki dan perempuan adalah sebuah rentakan yang melintasi semua pembagian sosial lainnya. Kesadaran baru bahwa mereka adalah subjek yang mampu membentuk sejarah menghubungkan pembebasan pribadi dengan pembebasan kolektif. Pengalaman-pengalaman pribadi perempuan pun menjadi politis.
Partisipasi perempuan dalam gerakan-gerakan sosial menjadi fenomena yang mengganggu tatanan lama. Ia sekaligus merupakan pemutusan dan rekonsiliasi. Gerakan ini mampu menafsirkan kebutuhan sejarah dan meninggalkan jejak yang abadi. Ia memberikan sumbangan penting berupa alat-alat dan praktik politik yang membantu mengatasi kebuntuan militansi kiri setelah gelombang protes tahun 1968 mereda.
Feminisme kulit hitam juga turut memperkaya perkembangan teori feminis. Karena lahir dari kesadaran perempuan kulit hitam bahwa rasisme, seksisme, dan penindasan kelas tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Dalam pengertian ini, gerakan perempuan keluar sebagai pemenang dari warisan tahun 1968 uang berbeda dengan sebagian besar kelompok kiri ekstra-parlementer. Mereka membangun budaya politik yang mengedepankan persatuan dalam keberagaman, serta mengembangkan kemampuan untuk menyatukan berbagai perjuangan dan identitas tanpa menyederhanakan realitas. Dengan cara itu, mereka berhasil memengaruhi masyarakat global dan membangkitkan kesadaran yang mendalam.
Jalan yang Menghancurkan
Rasa putus asa dan ketidakberdayaan yang diciptakan oleh dunia yang terbelah menjadi dua kubu, ditambah lagi dengan ancaman hanya menjadi sekrup kecil dalam mesin kapitalisme, mendorong banyak orang untuk mencari jalan baru
Pembentukan subkultur dan “surga buatan” yang terpisah dari masyarakat luas menjadi salah satu belokan yang lebih liberal dalam gerakan pemuda. Bertahan di pinggiran sistem dan gaya hidupnya sering dianggap sebagai sesuatu yang radikal, tetapi akibatnya justru sering kali adalah pengasingan dari masyarakat.
Sebagian karena jarak dari tradisi politik abad ke-19 dan keterbukaan terhadap eksperimen ideologi, gerakan pemuda tahun 1968 tidak selalu berhasil membedakan mana yang merupakan produk kapitalisme dan mana yang bukan. Dalam struktur organisasi yang sering cair dan tanpa tujuan strategis yang jelas, pintu tetap terbuka bagi serangan dan peminggiran yang dilakukan oleh sistem itu sendiri.
Bukan sebuah kebetulan bahwa gelombang protes diikuti oleh banjir narkoba dalam jumlah besar ke kota-kota besar di Barat. Heroin menyebar seperti wabah dan membunuh ribuan pemuda yang sebenarnya berpotensi untuk menumbangkan sistem tersebut.
Warisan Kita
Meski kita dibesarkan di tengah kekerasan sistemik, kita masih mampu membayangkan hal yang mustahil, bersatu, mengungkap kontradiksi, serta membongkar hubungan-hubungan tersembunyi dan mitos-mitos palsu dari sistem kapitalis yang berpura-pura tak terkalahkan, padahal sejak dulu rapuh. Inilah yang diajarkan oleh tahun 1968 kepada kita. Jika kita tidak menyadari sejarah kita, sejarah pemuda-pemuda seperti kita yang dulu menghantam kepala mereka ke tembok dunia, menghabiskan suara mereka dengan teriakan, dan melemparkan diri ke dalam masyarakat yang menginginkan mereka diam dan patuh, bagaimana kita bisa mengatasi serangan terhadap hati dan pikiran kita hari ini?
Kita tidak sendirian, baik hari ini maupun dalam sejarah. Ada ribuan pemuda yang telah berkorban agar kita bisa selangkah lebih dekat untuk memahami dan mewujudkan tujuan-tujuan kita.
«Semua perlawanan pemuda revolusioner yang pernah terjadi sepanjang sejarah selalu diperlakukan sebagai warisan. Khususnya, gerakan pemuda tahun 1968 dipandang sebagai warisan mendasar bagi eksistensi kita, sebagai pilar utama yang paling aktual, serta sebagai revolusi pemuda yang menjadi tradisi tempat gerakan pemuda hari ini berdiri. Tujuannya adalah mengembangkan semangat, perlawanan, dan pemberontakan dari revolusi pemuda 1968 ke dalam perjuangan kita sendiri. Tujuan strategisnya adalah mendorong terjadinya gelombang kedua dari gerakan pemuda 1968.»
The Principles of Democratic Youth Confederalism – Manifesto of the Youth
1. Sejarawan Fernand Braudel memandang sejarah melalui tiga dimensi: “sejarah mikro”, yaitu tingkat permukaan dari masa kini; sejarah konjungtur, yang terdiri dari siklus-siklus material menengah; dan sejarah struktural, atau longue durée, yang merupakan aliran berkelanjutan yang menggerakkan dan membentuk apa yang ada.
2. Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai tuntutan regionalis tahun 1968, kami merekomendasikan artikel “Le réveil des revendications régionalistes et nationalitaires au tournant des années 1968 : analyse d’une « vague » nationale” oleh Tudi Kernalegenn (2013)
3. Ungkapan tersebut menyebar berkat esai “The Personal Is Political” karya Carol Hanisch (1970)