top of page

Lebih dari Sekadar “Generasi Z”: Membela Semangat Pemuda Revolusioner

  • 8 jam yang lalu
  • 6 menit membaca

Perspektif Perempuan Muda Internasionalis



Generasi Z, kelompok anak-anak dan remaja yang mudah dikenali dan selalu menjadi pusat perhatian.” Hampir setiap minggu selalu ada berita utama baru yang menstigmatisasi kami. Kami dikatakan malas, rapuh, dan kecanduan ponsel. Sistem yang berkuasa melakukan upaya besar untuk membentuk dan mengendalikan kesadaran kolektif kami, terus-menerus membombardir masyarakat dengan narasi-narasi yang menindas. Narasi-narasi ini dirancang untuk mengalihkan perhatian kita dari kesadaran alternatif kita sendiri dan untuk mengikat kita pada status quo.


Apa tujuan dari narasi tentang Generasi Z? Jika kita mendekati teori-teori ini bukan sebagai objek studi pasif, tetapi sebagai pemuda revolusioner, kita harus bertanya: apakah kategori “Generasi Z” benar-benar mencerminkan realitas kita, ataukah itu hanyalah alat untuk membatasi dan mengekang kita?


Teori Generasional dan Gen Z

Teori generasional didasarkan pada premis bahwa sejarah mengikuti ritme. Menurut teori generasional, masyarakat bergerak melalui siklus berulang yang dibentuk oleh kelompok usia yang berurutan. Setiap generasi dikatakan mengembangkan pola pikir yang berbeda, dibentuk oleh kondisi politik dan budaya masa kecilnya. Ketika satu generasi menua dan generasi lain memasuki masa dewasa, fase sejarah baru diduga muncul. Perubahan tampaknya bukan hasil dari perjuangan terorganisir, tetapi sebagai perputaran otomatis roda sejarah. Sekilas, ini tampak meyakinkan. Kaum muda telah berulang kali berada di pusat perubahan sejarah. Namun, teori generasional mereduksi peran ini menjadi ritme struktural. Apa yang bisa menjadi intervensi politik yang disadari diubah menjadi perputaran otomatis roda sejarah.


Dalam kerangka ini, „Generasi Z“ merujuk pada mereka yang lahir sekitar tahun 1995 hingga 2010. Kami digambarkan sebagai generasi digital pertama yang sepenuhnya, dibentuk oleh ponsel pintar, media sosial, ketidakstabilan ekonomi, krisis iklim, dan pandemi. Kami disebut fasih secara digital dan selalu terhubung. Kami digambarkan sebagai progresif secara sosial, peduli dengan keadilan iklim dan kesetaraan gender. Namun ketika kita melakukan pergerakan, kesadaran kita dianggap sebagai idealisme naif atau ekstremisme. Kita juga dituduh rapuh. Kecemasan dan depresi yang meningkat dianggap sebagai masalah individu, bukan terkait dengan perang, utang, pekerjaan yang tidak tetap, dan keruntuhan ekologis. Dan mungkin yang paling gandrung adalah kita dituduh malas—seolah-olah menolak eksploitasi merupakan bentuk dari kecacatan karakter, bukan respons rasional terhadap ketidakadilan sistemik.


Di permukaan, kategori generasional tampak netral. Pada kenyataannya, kategori tersebut meratakan kompleksitas sejarah. Kerangka kerja yang sebagian besar berasal dari konteks Anglo-Amerika diekspor sebagai model universal, mengabaikan kelas, sejarah kolonial, dan realitas politik di seluruh dunia. Hasilnya adalah depolitisasi. Jika generasi hanya mengikuti skrip, kaum muda berhenti menjadi subjek sejarah. Pengulangan label yang terus-menerus—malas, sensitif, radikal—membentuk persepsi diri. Narasi tidak hanya menggambarkan kaum muda; narasi tersebut berupaya mendefinisikan dan mendisiplinkannya.


Semangat Revolusioner Kaum Muda, Bukan Sekadar “Generasi Z”

Namun, di balik distorsi ini terdapat sebuah kebenaran: ketika kaum muda memasuki sejarah, sejarah pun bergerak. Bukan karena siklus mistis, tetapi karena kaum muda menempati posisi sosial yang berbeda. Memahami kaum muda sebagai kategori sosial tidak dapat dipisahkan dari pemahaman sejarah dan masyarakat itu sendiri. Masyarakat tidak statis; ia bergerak melalui tahapan transformasi. Perubahan dan perkembangan adalah karakteristiknya yang paling mendasar. Kaum muda, pada hakikatnya, mewujudkan dinamika ini. Kaum muda mewakili vitalitas sifat sosial. Ia terus bergerak, gelisah, dan tidak mau tetap terkekang. Ia berusaha agar suaranya didengar di tempat-tempat terjauh. Energinya tidak mudah habis. Sikapnya terhadap kehidupan adalah mempertanyakan, mencari. Masa muda dapat dibandingkan dengan musim semi dalam kalender. Sama seperti alam yang berubah di musim semi, kehidupan manusia di masa muda mengandung keterbukaan yang sangat besar terhadap perubahan. Segala sesuatu tampak mungkin; tidak ada yang tetap.


Namun kesadaran akan peran ini sangat menentukan. Tanpa kesadaran akan misi historisnya, kaum muda dapat diserap dan dinetralisir. Kaum muda yang tidak menyadari fungsi sosialnya tidak dapat bebas atau otonom. Oleh karena itu, identitas pemuda yang jelas merupakan syarat mendasar untuk kehidupan yang bebas.


Definisi yang telah dikembangkan sejauh ini tentang pemuda, seperti narasi Generasi Z, sebagian besar terkait dengan peran yang diberikan oleh sistem dominan. Para penguasa telah menciptakan berbagai istilah—pemberontak, tidak bertanggung jawab, apolitis, ekstremis, konsumeris—bukan untuk memahami pemuda, tetapi untuk menetralkannya. Mereka tahu, seperti halnya kita, bahwa siapa pun yang memenangkan hati pemuda akan memenangkan hati masyarakat. Pemuda yang menyerah pada sistem menjamin masa depan sistem tersebut, karena pemuda berarti masa depan. Karena alasan ini, pemuda selalu menempati tempat khusus dalam perjuangan sejarah. Mereka telah memainkan peran perintis dalam momen-momen perkembangan sosial. Ketika masyarakat dapat terbuka terhadap perubahan daripada berpegang teguh pada stagnasi konservatif, pemuda pun menjadi kekuatan transformasi yang paling aktif dan efektif.


Pada saat yang sama, sejarah juga menunjukkan bahwa pemuda dapat dimanipulasi dan dimobilisasi untuk tujuan reaksioner. Dinamisme mereka dapat melayani pembebasan atau dominasi tergantung pada tingkat kesadaran dan organisasi mereka. Jadi pertanyaannya bukanlah apakah pemuda itu kuat, tetapi untuk kepentingan siapa kekuatan ini diarahkan. Pemberontakan saat ini—seperti di Nepal, Bangladesh, Madagaskar, Indonesia, Kenya, Maroko, dan negara-negara lain—menunjukkan bahwa kaum muda terus muncul sebagai aktor yang menentukan. Perempuan muda seperti Deniz Ciya telah membuktikan hal ini dengan kehidupan mereka. Pemberontakan ini bukanlah ekspresi temperamen generasi. „Pemberontakan Generasi Z“ ini adalah ekspresi kekuatan sosial yang sedang menghadapi krisis struktural yang melekat dalam sistem saat ini.


Untuk membela semangat revolusioner kaum muda berarti memperdalam organisasi. Pemberontakan spontan menunjukkan semangat dan kekuatan, tetapi untuk transformasi berkelanjutan kita tetap membutuhkan kejelasan ideologis, internasionalisme, kepemimpinan demokratis, dan komitmen terhadap kebebasan perempuan sebagai landasan. Tanpa ini, energi kaum muda berisiko mengalami fragmentasi. Pemberontakan kaum muda baru-baru ini—baik dalam bentuk protes keadilan lingkungan, gerakan buruh, atau pemberontakan terhadap pemerintah otoriter—adalah bukti bahwa kaum muda di seluruh dunia tidak hanya menanggapi serangkaian keadaan; mereka secara sadar dan kolektif menolak narasi yang berusaha mendefinisikan mereka. Oleh karena itu, sangat penting untuk menganalisis apa yang terjadi, dan mengambil pelajaran dari pemberontakan ini, khususnya dalam konteks membangun konfederalisme demokratis kaum muda global. Karena kekuatan gerakan pemuda saling terkait, meskipun terpisah secara geografis.


Dalam konteks ini, istilah Generasi Z juga memiliki potensi untuk direklamasi: dalam pemberontakan seperti di Nepal dan Maroko, istilah ini telah digunakan sendiri untuk memperkuat gerakan revolusioner lokal dan menjalin hubungan dengan pemuda yang berjuang di seluruh dunia, membangkitkan kembali kesadaran pemuda internasional.


Perspektif Perempuan Muda

Dalam perjuangan ini, posisi perempuan muda sangat menentukan. Sistem kapitalis yang mengeksploitasi memberinya misi yang aneh: untuk tidak memiliki misi sama sekali. Ia didorong untuk mengejar kesuksesan individu, kesesuaian estetika, dan beradaptasi secara diam-diam. Suara politiknya diremehkan; kemarahannya dipandang sebagai patologis. Namun di inti identitas perempuan muda terdapat semangat perlawanan dan militan. Ia membawa dalam dirinya bukan hanya semangat masa muda tetapi juga ingatan sejarah perlawanan perempuan. Untuk membangkitkan semangat ini membutuhkan organisasi yang sadar.


Perempuan muda harus bersikeras untuk mengatur pendidikannya dalam perspektif Bangsa Demokratis1—pendidikan yang memperkuat etika kolektif, kesadaran sejarah, dan tanggung jawab politik. Ia harus mempertanyakan segala sesuatu dalam sistem yang ada: peran yang diberikan kepadanya, citra yang dipaksakan kepadanya, batasan yang ditarik di sekitar mimpinya. Namun, pertanyaan tidak boleh tetap individual. Refleksnya harus terorganisir. Dengan demikian, kekuatan untuk menghancurkan persepsi yang diciptakan oleh kapitalisme tentang dirinya dan bangsanya terletak di tangan para perempuan muda itu sendiri. Ia harus mengembangkan metode politik dan cara partisipasi baru. Ia harus membawa kreativitas dan sifat rvolusionernya sendiri ke dalam politik sebagai kekuatan penentu.


Ketika perempuan muda berorganisasi, ia tidak hanya membela diri. Ia mentransformasi seluruh gerakan pemuda. Karena tanpa kebebasan perempuan sebagai prinsip mendasar, tidak ada semangat revolusioner yang dapat bertahan. Misalnya, revolusi Sandinista di Nikaragua dan Uni Soviet di bawah Stalin sama-sama menunjukkan bagaimana dominasi patriarki dalam gerakan tersebut tidak hanya membatasi kontribusi perempuan tetapi juga melemahkan revolusi secara keseluruhan. Dalam konteks ini, penolakan untuk mengangkat peran perempuan dalam revolusi pada akhirnya menyebabkan kemunduran sosialisme. Pelajaran yang dipetik dari kegagalan ini menyoroti pentingnya mengintegrasikan kepemimpinan perempuan ke dalam jantung perjuangan revolusioner.

Pemuda adalah Masa Depan


Terlepas dari semua pembicaraan seputar Generasi Z, pemuda bukanlah sekadar demografi untuk dilakukannya pemasaran produk-produk. Ini bukan hanya tren demografis. Ini adalah ekspresi paling dinamis dari kapasitas masyarakat untuk pembaharuan. Jika karakteristik esensial masyarakat adalah perubahan, maka pemuda—sebagai perwujudan keterbukaan terhadap perubahan—menjadi komponennya yang paling aktif. Karena sistem memahami potensi kita, ia mengkategorikan, mengkritik, dan mempermalukan kita. Pemuda yang terdepolitisasi adalah jaminan keberlanjutannya. Pemuda yang sadar dan terorganisir adalah tantangan terbesarnya.


Oleh karena itu, membela semangat pemuda revolusioner berarti membela masa depan. Membela masa depan membutuhkan kejelasan tentang siapa yang mendefinisikan kita dan mengapa. Hal itu membutuhkan penolakan identitas yang dipaksakan dan membangun identitas kita sendiri. Hal itu membutuhkan pengakuan bahwa pemuda, yang menyadari peran historisnya, menjadi aktor garda depan transformasi. Kita bukanlah arketipe tetap dalam siklus yang berulang. Kita adalah kekuatan hidup yang dibentuk oleh perjuangan dan organisasi. Kita tidak hanya mengikuti ritme sejarah, kita memiliki kapasitas untuk mematahkannya.


Selama kaum muda menolak citra yang dipaksakan dan berorganisasi di sekitar pemahaman mereka sendiri tentang kebebasan, martabat, dan kehidupan kolektif, semangat pemuda akan tetap tak tergoyahkan. Dan selama semangat ini tetap sadar dan terorganisir—terutama melalui kepemimpinan dan pembebasan perempuan muda—kaum muda tidak hanya akan menjadi objek sejarah, tetapi roda penggeraknya.




[1] Konsep Bangsa Demokratis, seperti yang diusulkan oleh Abdullah Öcalan, membayangkan sebuah masyarakat di mana keragaman budaya dan prinsip-prinsip demokrasi dirangkul melalui pemerintahan yang terdesentralisasi dan penentuan nasib sendiri secara kolektif. Konsep ini menyerukan transformasi negara-bangsa menjadi sistem yang berbasis pada konfederalisme demokratis, pembebasan perempuan, dan ekologi sosial.

 
 
 

Komentar


bottom of page