top of page

Sebuah Kisah dari Rojava

  • 2 hari yang lalu
  • 4 menit membaca

oleh Klara




Baris-baris singkat ini, diambil dari buku harian seorang internasionalis muda di Rojava, menceritakan momen-momen awal serangan HTS dan Negara Islam terhadap DAANES (Administrasi Otonomi Demokratis Suriah Timur Laut).


Pada Januari 2026, setelah serangan besar-besaran terhadap warga di kawasan Sheikh Masqsoud dan Asrafiye di Aleppo, milisi-milisi jihadis pemerintah menyasar seluruh wilayah Rojava. Meskipun telah ada kesepakatan antara pasukan pemerintah transisi Suriah dan SDF bahwa struktur militer DAANES akan mundur ke luar wilayah-wilayah yang mayoritas berpenduduk Arab di Deir Ez Zor, Tabqa, dan Raqqa — pada 18 Januari 2026, milisi-milisi jihadis menyerang seluruh warga sipil beserta struktur militer yang tengah dalam proses evakuasi.


Ribuan warga sipil dibantai, ribuan lagi diculik, dan ribuan lainnya masih belum diketahui nasibnya.


Malam yang sama, 18 Januari, ratusan anak muda bergabung dalam konvoi menuju kawasan Hesekeh untuk membendung laju jihadis dan mempertahankan tanah serta rakyat mereka.


18 Januari 2026

Aku dan seorang kawan dari Jerman sedang melaju menuju Hesekê. Malam telah tiba dan ketegangan menggantung di udara. Musuh telah bergerak hingga pinggiran kota dan kami berangkat untuk bergabung dengan struktur medis. Hanya segelintir kendaraan yang melaju ke arah yang sama dengan kami. Di jalan kami berpapasan dengan pengungsi dari Tabka, Raqqa, dan keluarga-keluarga dari Afrin yang melarikan diri dari gerombolan yang semakin mendekat. Kami menganalisa situasi, berbagi pengetahuan medis, dan berusaha sedikit mencairkan ketegangan. Rasanya seperti mengemudi masuk ke dalam badai yang sedang menggumpal, namun kegelisahan dan gairah silih berganti. Serangan-serangan itu, pembantaian, pertanyaan tentang bagaimana keadaan kawan-kawan di daerah yang diserang — semuanya bergantian hadir bersama keangkuhan yang mengakar jauh di dalam dada, sebuah penolakan untuk menyerahkan satu meter pun dari revolusi ini kepada gerombolan-gerombolan itu. Di kepalaku ada suara yang terus berkata, “Cukup. Apa pun yang diperlukan, kita harus melakukan segalanya untuk menghentikan mereka.”


Percakapan kami berputar soal medis dan pertahanan: apa yang bisa kita harapkan, apa yang harus kita perhatikan secara khusus? Saat kami tiba di klinik, suasana penuh kesibukan. Orang-orang yang terluka, sudah menjalani operasi dan dalam kondisi stabil, sedang dipindahkan ke kota-kota lain, dan ambulans terus melintas dengan cepat. Kami disambut hangat oleh kawan-kawan, dan setelah sejenak kami pun ikut membantu memuat kawan-kawan yang terluka ke dalam ambulans. Tempat kami berada dekat dengan garis depan, jadi kami berusaha menyisakan sesedikit mungkin orang di sini. Banyak kawan yang terjebak dalam penyergapan saat mundur dari Şedadê dan Deir ez Zor. Kendaraan terus berdatangan dan kami membantu semampu kami.


Beberapa jam kemudian, keadaan mulai mereda dan kami sempat mengunjungi kawan-kawan dari unit militer. Beberapa di antaranya sudah kami kenal, yang lain baru pertama kali bertemu. Kami duduk bersama kawan-kawan dari YPJ, minum teh, dan takjub dengan pertemuan-pertemuan yang revolusi ini hadirkan. Kami, dua internasionalis dari Jerman, duduk mengelilingi sebuah pemanas bersama kawan-kawan Arab, Asiria, Armenia, dan Kurdi dari berbagai penjuru Rojava. Malam semakin larut — percakapan singkat, lirik ke berita, dan giliran jaga di atap silih berganti. Kami semua menantikan dengan cemas apa yang akan terjadi dalam beberapa jam ke depan. Setelah beberapa lama, kantuk akhirnya tak bisa dilawan. Aku memejamkan mata sejenak.


Saat berdiri di atap klinik, aku menatap fajar yang perlahan menyingsing. Mataku berkelana, mengawasi gerak-gerik mencurigakan, pikiran melayang dalam keheningan. Aku datang ke Rojava karena aku melihat pemerintahan mandirinya, ideologi pembebasan perempuannya, dan hidup berdampingannya begitu banyak suku bangsa sebagai sebuah teladan bagi dunia. Bagiku, Rojava adalah tempat di mana harapan bersinar, seperti sinar matahari pertama setelah hujan yang menembus awan. Serangan-serangan yang terjadi saat ini adalah serangan terhadap harapan itu.


Dari kejauhan, aku mendengar gemuruh pesawat tempur berputar di atas kami. Pesawat-pesawat koalisi yang memantau pemindahan pejuang IS1. Mungkin agar mereka bisa dipenjara di tempat lain, mungkin agar AS bisa kembali merakit pasukan bayaran dari kalangan Islamis — siapa yang tahu pasti? Aku mengepalkan tinju dan menatap marah pesawat-pesawat yang terus berputar itu. Kawanku di sebelah tertawa dan menepuk bahuku. “Dev ji wan berde,” yang kurang lebih berarti, “Jangan pikirkan mereka!” Aku mengangguk dan ia melanjutkan, “Tidak ada yang akan memberi kita kebebasan, kita hanya bisa mengandalkan diri sendiri. Pada kekuatan kita, kekuatan masyarakat, dan keyakinan kita.” Kami tersenyum dan memandang sekeliling. Kendaraan lapis baja dari YPG dan YPJ melaju lewat, lagu-lagu revolusi menggelegar dari pengeras suara, angin membawa suara-suara itu naik ke atas. Di atap-atap bangunan sekitar, banyak kawan lain yang berjaga, sama seperti kami. Waspada, teguh, siap.


Beberapa minggu telah berlalu, dan kehidupan di kota perlahan kembali normal. Kini setelah perjanjian integrasi2 disepakati, semua orang berusaha memahami apa artinya ini dalam praktik, bagaimana kita bisa mempertahankan capaian-capaian revolusi, dan memastikan transformasi masyarakat terus berlanjut. Serangan-serangan itu bertujuan untuk membenturkan rakyat Rojava dan Suriah satu sama lain; perlawanan di sini, di seluruh penjuru Kurdistan dan di seluruh dunia, telah memberi kita kesempatan untuk menghentikan pertumpahan darah untuk sementara waktu.


Dalam beberapa minggu terakhir aku sempat bertemu banyak orang yang berbeda-beda; bersama kami telah berjuang, berduka, tertawa, dan bermimpi. Persahabatan yang ditempa dalam waktu dan keadaan seperti ini akan selalu menyimpan makna tersendiri. Selama minggu-minggu ini, di mana kami berbagi pengalaman pahit maupun ringan, satu hal juga menjadi jelas bagiku. Apa pun serangan dan rintangan yang masih menanti di depan, jika kita menjalani dan berjuang dengan harapan dan tekad, maka kita bisa menciptakan sesuatu yang luar biasa dalam keadaan apa pun.



[1] Pada akhir Januari 2026 tercapai kesepakatan antara AS dan pemerintah interim Suriah untuk memindahkan ribuan pejuang IS dari penjara-penjara di Suriah ke Irak, melalui yang disebut «Koalisi Global untuk Mengalahkan ISIS» [catatan editor].


[2] Sebuah kesepakatan dicapai pada akhir Januari, antara Pasukan Demokratik Suriah dan Pemerintah Transisi Suriah. Kesepakatan ini mencakup gencatan senjata segera dan integrasi bertahap struktur militer, administratif, dan sipil administrasi otonom ke dalam negara [catatan editor].





Komentar


bottom of page